SYEH SITI JENAR
Nama
asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid
Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah
dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke
Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau
Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.
Syaikh
Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru
kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti
Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.
Kemudian
ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah
dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat
menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad
Iskandar Syah. Saat itu. KesultananMalaka adalah di bawah komando Khalifah
Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani. Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya
bermukim di Malaka.
Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan
kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah.Kemudian
pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar
Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah.
Syekh Siti Jenar juga dianggap telah
merusak ketentraman dan melanggar peraturan Kerajaan Demak.
Atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa wali ke tempat Syekh Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan Desa Krendhasawa), untuk menghukum mati Syekh Siti Jenar pada 1506 M.
Atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa wali ke tempat Syekh Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan Desa Krendhasawa), untuk menghukum mati Syekh Siti Jenar pada 1506 M.
Posisi
Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah
Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam
Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada
Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid
Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:
1. Sayyid Ahmad
Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab
2. Maulana Malik
Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah
3. Sayyid Kahfi,
dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan
4. Sayyid Abu
Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilall
Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti
Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi,
Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali,
Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan
Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid
Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy. Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti
Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu
ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.
KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI
JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:
1.
Menganggap bahwa
Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal
sehat manusia dan Syari’at Islam. cerita yg masih sangat populer tersebut
dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking
cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon,
griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti
Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang
akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]…
2.
“Ajaran Manunggaling
Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis
sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah
itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar,
beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda
penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’
merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in
Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa
kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati,
Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
3.
Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh
Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh
Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya
berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata
kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan
sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada
manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah”
dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa
Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.
4.
Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian
Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi
anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang
cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh
Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis
menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori
Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun.Manusia lahir dari manusia dan akan
wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat
para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka
berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di
Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru
mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.
5.
Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh
Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu
hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku
bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: “Wali Songo adalah penegak
Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan
bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh
membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah.
Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh
waliyullah dari keturunan yang sama. Tidak bisa diterima akal sehat.”
Penghancuran
sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah
Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara
Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan
Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik
Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:
1)
Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
2)
Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
3)
Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]
Wahai
kaum muslimin melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap
upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis
terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati jangan mau kita diadu dengan sesama
umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu
dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam.


